Matematika penting untuk keilmuan, khususnya dalam peranan yang dimainkan dalam ekspresikan mode ilmiah. Memperhatikan dan kumpulkan beberapa hasil pengukur, seperti membuat tesis dan sangkaan, tentu memerlukan mode dan eksplorasi matematis. Cabang matematika yang kerap digunakan dalam keilmuan salah satunya kalkulus dan statistika, walaupun sebetulnya semua cabang matematika memiliki aplikasinya, bahkan juga sektor “murni” seperti teori bilangan dan topologi.
Sebagian orang pemikir melihat matematikawan sebagai periset, dengan asumsi jika pembuktian-pembuktian matematis sama dengan eksperimen. Beberapa yang lain tidak memandang matematika sebagai pengetahuan, karena tidak membutuhkan uji-uji uji cobatal pada teori dan hipotesisnya. Tetapi, dibalik ke-2 asumsi itu, realita keutamaan matematika sebagai alat yang bermanfaat untuk memvisualisasikan/menerangkan semesta alam sudah menjadi rumor khusus untuk filsafat matematika.
Saksikan Eugene Wigner, The Unreasonable Efekiveness of Mathematics.
Richard Feynman berbicara, “Matematika itu tidak riil, tetapi berasa riil. Di mana tempatnya ada?”, dan Bertrand Russell benar-benar suka mendeskripsikan matematika sebagai “subyek yang kita sebelumnya tidak pernah tahu apakah yang sedang kita bahas, dan kita tidak paham juga kebenarannya”.
Pemikiran filsafat
Dalam filsafat, pengetahuan termasuk tipe aksiden dalam kelompok rekanan.
Dalam pengetahuan, ada subyek yang ketahui dan object yang diketahui. Rekanan di antara ke-2 hal itu dikatakan sebagai pengetahuan. Pandangan ini disokong oleh Fakhruddin Ar-Razi.[7] Opini yang berlainan diberi oleh beberapa filsuf peripatetik. Mereka yakini jika pengetahuan bukan sebuah rekanan.
Opini mereka berkenaan pengetahuan ialah sebuah deskripsi yang diketahui lewat penalaran.[8]
Pemikiran mazhab
Mazhab Asy’ariyah
Mazhab Asy’ariyah mendefinisikan pengetahuan sebagai sebuah karakter yang terdapat dalam zat yang terkait dengan suatu hal yang diketahui. Pengertian yang sebagai wakil mazhab ini diberi oleh Ali bin Abdul Aziz Al-Qadhi Al-Jurjani. Dia mendefinisikan pengetahuan sebagai karakter yang menegaskan suatu hal yang diketahui untuk figur yang mempunyai karakter itu. [8] Abu al-Hasan al-Asy’ari yang disebut figur khusus dalam mazhab Asy’ariyah mendefinisikan pengetahuan sebagai suatu hal yang membuat figur yang ketahui bisa ketahui apa yang dia kenali.[9]